Jatimvote.id – Malang Autism Center (MAC) memperkuat pendekatan pendampingan anak dengan autisme melalui layanan terapi dan kegiatan sosial yang dirancang untuk mendukung keterampilan serta kemandirian anak.
Memasuki usia ke-11 pada Oktober 2026, MAC mengembangkan sejumlah program, mulai dari Omah Terapi Autis (OTA), kolaborasi layanan fisioterapi, hingga kegiatan Nasi Berkah yang melibatkan pembelajaran praktis bagi anak.
Founder MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan lembaganya ingin memberikan manfaat lebih luas bagi anak dengan autisme, keluarga, dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan di Omah Terapi Autis, Jalan Neptunus Nomor 4B, Tata Surya, Tlogomas, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jumat (30/10/2026).
Aktivitas Sosial Jadi Sarana Belajar Anak
Salah satu program yang dikembangkan MAC adalah Nasi Berkah. Kegiatan berbagi makanan ini dimulai secara rutin setiap Jumat pada 2023, kemudian berkembang menjadi kegiatan harian sejak 2025.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada kepedulian sosial. MAC juga memanfaatkannya sebagai sarana pembelajaran praktis bagi anak dengan autisme.
Melalui aktivitas terstruktur dan pendampingan, anak dapat belajar tanggung jawab, mengembangkan keterampilan praktis, serta membangun kemandirian sesuai kemampuannya.
“Memasuki usia ke-11, kami ingin Malang Autism Center tidak hanya berkembang dari sisi fasilitas dan layanan terapi, tetapi juga semakin luas memberikan manfaat bagi anak dengan autisme, keluarga, dan masyarakat,” ungkap Cahyadi.
OTA Buka Akses Terapi bagi Keluarga Kurang Mampu
MAC juga mengembangkan program Omah Terapi Autis (OTA) untuk membantu keluarga dengan keterbatasan ekonomi memperoleh layanan terapi.
Melalui sistem pembayaran sesuai kemampuan keluarga, program tersebut berkembang dari dua anak pada awal pelaksanaan menjadi 10 anak penerima layanan. MAC kemudian memperluas jangkauannya melalui OTA Neptunus pada 2022 dan OTA Bululawang pada 2024.
Cahyadi menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan berbeda sehingga pendampingan harus disesuaikan dengan kemampuan serta tahap perkembangannya.
Manfaat program tersebut dirasakan Uswatun Hasanah, orang tua anak penerima terapi asal Bululawang, Kabupaten Malang.
Ia menyebut anaknya menunjukkan perkembangan setelah menjalani terapi selama tiga bulan. Anak yang sebelumnya sangat aktif dan sulit diarahkan kini mulai lebih tenang, mengikuti arahan, serta merespons ketika dipanggil.
Uswatun juga mengaku terbantu dengan biaya terapi sekitar Rp150 ribu per tahun yang dinilainya masih terjangkau bagi kondisi ekonomi keluarganya.
Perluas Kolaborasi dan Fasilitas Pelayanan
MAC berdiri pada Oktober 2015 di Kabupaten Malang sebagai pusat layanan terapi perilaku berbasis Applied Behavior Analysis (ABA). Pendekatan tersebut digunakan untuk mendukung proses belajar, pengembangan keterampilan, dan kemandirian anak.
Dalam pengembangan fasilitas, MAC telah membangun gedung kedua pada 2025. Selanjutnya, lembaga tersebut merencanakan pembangunan gedung ketiga di kawasan Manggar, Kecamatan Dau, serta gedung keempat di Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Selain terapi, MAC bekerja sama dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan untuk mengidentifikasi dan mendata penyandang disabilitas yang membutuhkan fisioterapi. Layanan lanjutan dapat dilakukan melalui Klinik Patria milik MAC.
Cahyadi berharap kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, tenaga profesional, dan berbagai pihak semakin kuat sehingga akses layanan dapat menjangkau lebih banyak anak.
“Ke depan, kami ingin memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, tenaga profesional, dan berbagai pihak agar semakin banyak anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mencapai kemandirian,” pungkasnya.
Dengan tema “11 Tahun Bertumbuh, Berbagi, dan Terus Memberi Arti”, MAC menjadikan momentum satu dekade lebih perjalanannya sebagai dorongan untuk memperluas akses layanan dan kepedulian terhadap anak dengan autisme.
Editor : Redaksi