Selasa, 01 Sep 2026 20:57 WIB

Petani Tebu Bondowoso Didorong Kejar Rendemen Lewat Prinsip MBS

Petani tebu didorong menjaga kualitas tebu dengan menerapkan prinsip Manis, Bersih, dan Segar (MBS) untuk mendukung optimalisasi rendemen di PG Pradjekan, Bondowoso. / Foto: Jatimvote
Petani tebu didorong menjaga kualitas tebu dengan menerapkan prinsip Manis, Bersih, dan Segar (MBS) untuk mendukung optimalisasi rendemen di PG Pradjekan, Bondowoso. / Foto: Jatimvote

Bondowoso, Jatimvote.com – Kualitas tebu menjadi salah satu penentu hasil pengolahan dan rendemen di pabrik gula. Karena itu, petani tebu yang memasok bahan baku ke PG Pradjekan, Bondowoso, didorong menjaga kualitas tanaman dengan menerapkan prinsip MBS atau Manis, Bersih, dan Segar.

Prinsip tersebut diterapkan mulai dari proses pemanenan di kebun hingga tebu dikirim ke pabrik. Tebu yang memiliki tingkat kemasakan optimal, minim kotoran, dan tidak terlalu lama setelah ditebang dinilai lebih mampu mempertahankan kualitas bahan bakunya.

Bagi petani, kualitas tebu juga berkaitan langsung dengan hasil yang diperoleh. Bahan baku dengan mutu yang baik memberikan peluang untuk menghasilkan rendemen lebih optimal sehingga turut mendukung peningkatan nilai hasil panen.

Ketua DPC Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Pradjekan Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengajak petani memperhatikan kualitas tebu sebelum dikirim ke pabrik.

“Petani harus terus menjaga kualitas tebunya. Tebu yang Manis, Bersih, dan Segar akan memberikan hasil yang lebih baik ketika masuk ke pabrik,” ujar Rolis.
Ia mengatakan, petani diharapkan mengirimkan tebu dengan mutu MBS ke PG milik PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

“Kami mengajak petani untuk mengirimkan tebu dengan mutu MBS ke PG milik PT SGN agar hasil yang diperoleh lebih maksimal. Dengan hasil yang baik, tentu harapannya pendapatan petani juga dapat meningkat,” tambahnya

Kualitas Tebu Jadi Kunci Kerja Sama Petani dan Pabrik
Menurut Rolis, peningkatan kualitas tebu merupakan tanggung jawab bersama. Petani memiliki peran penting dalam menjaga kualitas bahan baku, sementara pabrik mengoptimalkan proses pengolahan agar hasil yang diperoleh dapat maksimal.

Sinergi tersebut dinilai penting bagi keberlanjutan industri gula. Pasokan bahan baku yang berkualitas dapat mendukung kinerja pabrik sekaligus memberikan peluang bagi petani memperoleh hasil usaha yang lebih baik.

PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN) terus mendorong penguatan kemitraan dengan petani tebu, baik melalui pengelolaan bahan baku maupun optimalisasi proses pengolahan.

Kolaborasi antara petani dan pabrik diharapkan mampu membangun ekosistem pergulaan yang lebih produktif sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani tebu rakyat.

Penerapan MBS pun tidak hanya dipandang sebagai upaya menjaga kualitas tanaman. Prinsip tersebut menjadi bagian dari strategi untuk mendapatkan rendemen yang lebih baik, meningkatkan nilai hasil panen, dan pada akhirnya mendorong kesejahteraan petani.

SGN dan Upaya Mendorong Industri Gula Nasional
PT Sinergi Gula Nusantara atau SGN merupakan subholding gula PT Perkebunan Nusantara III (Persero) yang bergerak di bidang agroindustri komoditas gula.

Perusahaan tersebut didirikan pada 17 Agustus 2021 dalam rangka restrukturisasi bisnis gula PTPN Group. Pendirian SGN juga menjadi bagian dari proyek strategis pemerintah dalam mendukung pencapaian swasembada gula nasional.

SGN mengonsolidasikan sejumlah pabrik gula yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Selain mengelola sektor pengolahan tebu (off farm), perusahaan juga menjalankan kemitraan budidaya tebu (on farm) serta program peningkatan kesejahteraan petani tebu rakyat.

Dengan sinergi tersebut, kualitas tebu dari tingkat kebun menjadi bagian penting dalam rantai produksi gula. Semakin baik bahan baku yang dikirim, semakin besar peluang proses pengolahan menghasilkan rendemen optimal.

Editor : Redaksi