Kamis, 08 Okt 2026 00:27 WIB

Lima Tahun Pascamerger Pelindo, Terminal Teluk Lamong Catat Pertumbuhan Arus Peti Kemas

Aktivitas pelayanan kapal peti kemas di Terminal Teluk Lamong, Surabaya. Transformasi operasional dan digitalisasi mendukung peningkatan produktivitas serta efisiensi layanan terminal.
Aktivitas pelayanan kapal peti kemas di Terminal Teluk Lamong, Surabaya. Transformasi operasional dan digitalisasi mendukung peningkatan produktivitas serta efisiensi layanan terminal.

Jatimvote.com — Lima tahun setelah merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, PT Terminal Teluk Lamong (TTL) terus memperkuat transformasi operasional dan digitalisasi layanan terminal peti kemas. Transformasi tersebut turut mendorong pertumbuhan arus peti kemas hingga mencapai 2.187.964 TEUs pada 2025.

Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 2021 yang tercatat sebesar 780.160 TEUs. Pertumbuhan arus peti kemas semakin akseleratif dalam dua tahun terakhir, masing-masing mencapai 55,9 persen pada 2024 dan 64,6 persen pada 2025.

Mengusung tema "5 Tahun Bersatu, Bersama Kita Maju", TTL menjadikan lima tahun pascamerger sebagai momentum untuk memperkuat integrasi, meningkatkan produktivitas, serta mengembangkan inovasi operasional dan digital guna meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna jasa.

Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, mengatakan perjalanan lima tahun pascamerger tidak hanya berkaitan dengan integrasi organisasi, tetapi juga pembangunan fondasi operasional yang lebih terintegrasi dan berorientasi kepada pelanggan.

“Lima tahun pascamerger menjadi perjalanan penting bagi Terminal Teluk Lamong. Kami tidak hanya tumbuh dari sisi volume, tetapi juga terus membangun fondasi operasional yang semakin terintegrasi, produktif, dan berorientasi kepada pelanggan,” ujar David dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).

Kelola Tiga Terminal Peti Kemas
Transformasi TTL semakin diperkuat dengan bertambahnya cakupan pengelolaan terminal. Setelah menerima serah operasi TPK Nilam pada 2024 dan TPK Berlian pada 2025, TTL kini mengelola tiga terminal peti kemas, yakni TPK Teluk Lamong, TPK Nilam, dan TPK Berlian.

Integrasi ketiga terminal tersebut dinilai memberikan peluang bagi TTL untuk mengoptimalkan kapasitas, aset, dan sumber daya, sekaligus meningkatkan standardisasi proses dan produktivitas operasional.

Transformasi Pelindo melalui standardisasi pengelolaan terminal peti kemas juga mendorong TTL melakukan berbagai perbaikan, mulai dari penyempurnaan proses operasional, peningkatan produktivitas peralatan, penguatan pelayanan kapal, hingga digitalisasi layanan terminal.

Waktu Tunggu Kapal Dipangkas
Salah satu inovasi dilakukan pada pelayanan kapal di dermaga domestik. TTL sebelumnya menghadapi tantangan arus kuat yang dapat memengaruhi waktu pelayanan kapal.

Melalui evaluasi pola operasi dan kolaborasi dengan pelayanan pemanduan, TTL melakukan penyempurnaan pola pelayanan sehingga kapal dapat dilayani secara lebih fleksibel tanpa harus menunggu kondisi arus tertentu.

Perbaikan tersebut mampu menurunkan rata-rata waktu tunggu kapal dari 6,67 jam menjadi 1,83 jam.

Upaya peningkatan keandalan pelayanan kemudian diperkuat melalui penerapan konsep Berthing Priority dan Berthing Window. Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk memberikan kepastian jadwal sandar kapal, mengurangi waktu tunggu, serta mendukung keandalan jadwal pelayaran.

Digitalisasi Operasional
TTL juga memperkuat digitalisasi pelayanan terminal. Salah satu implementasinya adalah Terminal Booking System (TBS) yang diterapkan pada 2025.

Sistem tersebut digunakan untuk mengoptimalkan pengaturan dan pemerataan kedatangan truk, meningkatkan handling capacity terminal, mengendalikan Truck Round Time (TRT), serta meningkatkan efisiensi proses haulage.

Digitalisasi operasional kemudian dikembangkan melalui sistem Integrated Planning & Control. Sistem ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan pengendalian aktivitas terminal secara terintegrasi dan berbasis data.

Di sisi layanan pengguna jasa, TTL juga melakukan penyempurnaan pengaturan arus kendaraan dan fasilitas pendukung untuk menciptakan proses operasional yang lebih tertib, aman, dan efisien.

Terapkan EAZI pada 2026
Transformasi pelayanan kapal memasuki tahap berikutnya melalui penerapan Express Anchorage Zone Service (EAZI) pada 2026.

Program tersebut menjadi salah satu upaya TTL bersama pemangku kepentingan kepelabuhanan untuk mempercepat proses pelayanan kapal melalui optimalisasi area labuh.

Dengan EAZI, proses pelayanan kapal di area labuh dapat dilakukan lebih cepat sehingga memperpendek waktu pergantian antarkapal dan mendukung percepatan proses sandar serta kegiatan operasional berikutnya di terminal.

“Transformasi bagi kami bukan satu proyek besar yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian continuous improvement. Mulai dari bagaimana kapal dapat sandar lebih cepat, bagaimana jadwal sandar menjadi lebih pasti, bagaimana truk masuk terminal lebih teratur, hingga bagaimana seluruh aktivitas terminal dapat direncanakan dan dikendalikan secara lebih terintegrasi,” kata David.

Menuju Terminal Smart dan Green
TTL selanjutnya mengarahkan transformasi menuju ekosistem terminal yang smart, green, and sustainable.

Integrasi tiga terminal dinilai membuka ruang lebih besar untuk optimalisasi aset dan sumber daya, peningkatan standardisasi proses, penguatan produktivitas, serta perluasan sinergi operasional.

Pemanfaatan teknologi digital juga terus dikembangkan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data sekaligus meningkatkan konektivitas antara terminal, pengguna jasa, perusahaan pelayaran, transporter, dan mitra dalam ekosistem logistik.

Komitmen tersebut berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan efisiensi energi, mengurangi dampak lingkungan, memperkuat keselamatan kerja, dan menjaga keberlanjutan operasional.

“Integrasi tiga terminal memberikan ruang yang semakin besar bagi kami untuk mengoptimalkan kapasitas, aset, dan sumber daya secara lebih efektif. Ke depan, transformasi TTL akan terus diarahkan menuju ekosistem terminal yang smart, green, dan sustainable, sekaligus tetap responsif terhadap kebutuhan pelanggan dan perkembangan industri logistik,” ujar David.

Memasuki fase berikutnya setelah lima tahun merger Pelindo, TTL berkomitmen melanjutkan transformasi melalui penguatan integrasi tiga terminal, peningkatan produktivitas, digitalisasi, innovation-driven operation, serta pengembangan layanan yang semakin ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dengan semangat “5 Tahun Bersatu, Bersama Kita Maju”, TTL menargetkan kontribusi yang semakin besar terhadap peningkatan konektivitas logistik, efisiensi rantai pasok, dan penguatan daya saing maritim Indonesia.

Editor : Redaksi