Jatimvote.com – Upaya merawat khazanah intelektual ulama menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Bedah Buku Panyirep Gemuruh Part 2 yang digelar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Singosari bersama Ranting GP Ansor Watugede, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kedai Coffee Abimanyu, Watugede, Singosari, Kabupaten Malang, itu mendorong kader muda Nahdlatul Ulama (NU) untuk tidak hanya mempelajari sejarah perjuangan ulama, tetapi juga menggali dan melestarikan manuskrip Pegon sebagai bagian dari warisan keilmuan Islam Nusantara.
Baca juga: Hari Santri 2026, Kajari Probolinggo Dorong Santri Ambil Peran dalam Pembangunan
Diskusi yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut membahas pemikiran dan keteladanan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, salah satu pendiri NU. Pembahasan diarahkan pada relevansi pemikiran ulama dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan gerakan generasi muda saat ini.
Manuskrip Pegon Dinilai Penting untuk Dikaji
Dalam sesi diskusi, Fathul H. P. menyoroti pentingnya pengkajian naskah atau manuskrip Pegon. Khazanah tersebut dinilai menyimpan beragam pengetahuan, mulai dari fikih sosial, filsafat, hingga komunikasi.
Pengkajian manuskrip menjadi penting agar warisan pemikiran ulama tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.
Para peserta juga menyepakati pentingnya menginventarisasi manuskrip Pegon yang ada di wilayah Singosari. Naskah-naskah tersebut diharapkan dapat dikaji dan diterjemahkan dengan tetap menjaga ketepatan makna serta konteks aslinya.
Selain itu, forum mendorong perluasan kegiatan kajian ke masjid dan musala di Kecamatan Singosari agar tradisi diskusi keilmuan semakin dekat dengan masyarakat.
Keteladanan Mbah Wahab sebagai Inspirasi Kader
Pemantik materi, Dr. Kiai Muhammad Kholison, mengajak kader Ansor menjadikan Mbah Wahab sebagai teladan dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.
“Kita harus menjadi wujud dari Mbah Wahab, mulai dari pemikiran, lisan, hingga tingkah laku, sebagai arah gerak kita sebagai generasi muda Ansor. Selamat Hari Santri!” ujarnya.
Pesan tersebut menekankan bahwa penghormatan terhadap ulama perlu diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi keilmuan juga perlu diikuti sikap kritis dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Buku Panyirep Gemuruh sendiri menjadi pintu masuk untuk memahami keteladanan KH Abdul Wahab Chasbullah, termasuk perannya saat menghadapi konflik di Masjid Peneleh sebagaimana disinggung dalam diskusi.
Bedah Buku Jadi Sarana Menghidupkan Kader
Ketua PAC GP Ansor Singosari, Gus Afifudin, menilai kegiatan tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda mengenai pentingnya produktivitas dalam berkhidmat kepada masyarakat.
Ia mengajak kader tidak sekadar hadir dalam kegiatan organisasi, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata melalui pemikiran, tindakan, dan pengabdian.
Sementara itu, Ketua Ranting GP Ansor Watugede, Ahmad Fauzi, menyebut bedah buku tersebut membantu mengaktifkan kembali kader sekaligus memperkuat keilmuan dan sinergi antara pengurus NU Ranting Watugede dengan GP Ansor setempat.
Menurutnya, kegiatan semacam ini perlu terus dilaksanakan untuk membangun semangat berorganisasi dan mempererat persaudaraan antarkader.
Melalui bedah buku dan rencana pengkajian manuskrip Pegon, GP Ansor Singosari menegaskan pentingnya literasi sebagai bagian dari kaderisasi. Warisan intelektual ulama diharapkan tetap hidup melalui pembelajaran, diskusi, dan pengabdian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Editor : Redaksi