Senin, 19 Okt 2026 09:41 WIB

Djoko AW: Jurnalisme Nasionalis Bukan Alat Propaganda

Djoko Adi Waluyo mengulas peran jurnalisme nasionalis di era digital.
Djoko Adi Waluyo mengulas peran jurnalisme nasionalis di era digital.

Jatimvote.com – Ketua PGRI Jawa Timur H. Djoko Adi Waluyo menegaskan bahwa jurnalisme nasionalis tidak boleh berhenti pada slogan atau berubah menjadi alat propaganda. Nasionalisme dalam kerja jurnalistik, menurutnya, harus diwujudkan melalui berita yang jujur, kritis, bertanggung jawab, dan berpihak pada kepentingan publik.

Pesan tersebut disampaikan Djoko saat menjadi narasumber Pelatihan Jurnalistik Batch #3 yang digelar GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di The Alana Hotel Surabaya, Jumat (16/10/2026). Pelatihan ini diikuti 28 kader dan alumni GMNI.

Djoko mengingatkan bahwa di tengah persaingan mendapatkan perhatian masyarakat, jurnalis tidak boleh kehilangan independensi hanya demi popularitas atau kepentingan pihak tertentu.

Nasionalisme Harus Terlihat dalam Karya
Menurut Djoko, jurnalis nasionalis bukan sekadar menyampaikan slogan kebangsaan di media sosial. Nilai nasionalisme harus terlihat dari cara jurnalis mengungkap fakta, mengawasi kebijakan, dan menghadirkan persoalan masyarakat secara bertanggung jawab.

“Jurnalis nasionalis bukan jurnalis yang hanya bisa meneriakkan ‘NKRI Harga Mati’ di Instagram. Jurnalis nasionalis adalah jurnalis yang merawat Indonesia dengan karyanya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik. Kritik tersebut harus dibangun berdasarkan fakta dan data, bukan semata-mata untuk menyerang atau menciptakan kegaduhan.

Sebaliknya, jurnalis juga tidak seharusnya hanya bertugas membenarkan kebijakan atau memuji pihak tertentu. Pers perlu menjaga jarak dari praktik propaganda agar tetap dapat menjalankan fungsi informasinya bagi masyarakat.

Waspadai Hoaks dan Isu Pemecah Belah
Djoko menyoroti risiko penyebaran informasi palsu, ujaran kebencian, dan potongan informasi yang kehilangan konteks. Konten semacam itu dapat memperbesar kesalahpahaman, terutama jika berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Dalam situasi tersebut, jurnalis memiliki tanggung jawab menghadirkan klarifikasi, memeriksa sumber, serta menyajikan informasi secara utuh.

Ia menyebut nasionalisme juga berkaitan dengan upaya menjaga ruang publik agar masyarakat dapat memahami persoalan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.

“Nasionalisme berarti menjaga nalar bangsa tetap waras,” tuturnya.

Jangan Menyerahkan Penilaian kepada Algoritma
Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dapat membantu jurnalis mengembangkan karya. Namun, penggunaannya harus disertai kemampuan memeriksa kebenaran informasi dan memahami dampak pemberitaan.

Djoko mengingatkan bahwa algoritma media sosial sering memberi perhatian besar pada konten sensasional dan emosional. Karena itu, jumlah penonton tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah berita.

Ia mendorong jurnalis memberi ruang kepada kisah guru yang mengabdi di daerah terpencil, perjuangan petani garam di Madura, inovasi siswa SMK di Gresik, serta praktik toleransi di Jawa Timur.

Menurutnya, media perlu mengangkat berbagai pengalaman masyarakat agar publik memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi bangsa.

Prinsip 3C sebagai Pegangan
Dalam pelatihan tersebut, Djoko memperkenalkan prinsip Check, Context, dan Care. Check berarti memverifikasi fakta sebelum menerbitkan berita. Context menuntut penyajian informasi secara lengkap, sedangkan Care mengingatkan jurnalis untuk mempertimbangkan dampak sosial pemberitaan.

Ia juga mendorong jurnalis muda memperluas liputan hingga ke sekolah, desa, pelabuhan, dan wilayah pesisir. Menurutnya, realitas Indonesia tidak hanya tercermin dari isu yang ramai di Jakarta.

“Indonesia tidak hanya Jakarta. Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke,” tegasnya.

Melalui pelatihan tersebut, Djoko mengajak jurnalis muda menempatkan profesionalisme, integritas, dan kepentingan publik sebagai landasan kerja di tengah derasnya arus informasi digital.

Editor : Redaksi